Breaking News
Loading...
Rabu, 25 September 2013

Studi: Selain Flu, Anak Kerap Bolos Sekolah Gara-gara Radang Usus

01.57
kesehatan anak
courtesy:.flexmedia.co.id
Jakarta, Di musim tertentu, anak jadi rentan jatuh sakit sehingga tak bisa melakukan aktivitas hariannya, termasuk bersekolah. Penyebabnya bisa beragam. Namun sebuah studi memaparkan anak paling sering bolos sekolah gara-gara flu. Yang kedua karena radang usus atau IBS.
Salah seorang ibu yang tahu betul betapa buruknya kondisi ini adalah Claire McKee. Putranya, Elliott pertama kali mengalami gejala radang usus ketika ia mulai bersekolah di usia empat tahun.
"Ia mulai mengalami sakit perut yang parah. Setiap malam ia memegangi perutnya dan menangis kesakitan. Saya pun mencoba memeluknya hingga ia ketiduran," kisah Claire seperti dilansir Daily Mail, Selasa (24/9/2013).
"Paginya, Elliott akan berlama-lama di kamar mandi, mengalami serangan diare bertubi-tubi. Menyedihkan melihatnya kesakitan dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga takut tak bisa ke toilet tepat waktu saat berada di sekolah atau teman-temannya mencium bau tak sedap karena sakit perutnya itu," tambahnya.
Untuk itu, dokter meminta agar Elliott menjalani sejumlah tes darah untuk mengetahui apakah anak ini mengidap gangguan pencernaan serius seperti Coeliac dan penyakit Crohn atau tidak. Namun ternyata tidak. Kemudian Elliott dirujuk ke seorang pakar diet, yang menyarankan agar anak ini membatasi konsumsi beberapa jenis makanan untuk melihat apakah masalahnya terletak pada alergi makanan atau intoleransi zat tertentu. Hasilnya pun juga negatif.
Barulah semuanya menjadi jelas ketika Claire berbincang dengan salah seorang rekannya yang telah lama menderita IBS atau irritable bowel syndrome. "Ini memberikan pencerahan. Gejala yang Elliott rasakan cocok dengan apa yang dialami rekan saya," ungkap wanita asal Billingshurst, West Sussex tersebut.
Gejala IBS sendiri bisa muncul ketika otot-otot di usus besar menjadi sensitif dan berkontraksi. Sayangnya penyebab gangguan ini tidak diketahui dan stres bisa jadi salah satu pemicunya.
"Saya baru menyadari jika masalah yang dialami Elliott bertepatan dengan hari-hari pertamanya di sekolah. Ia tampaknya kurang cocok dengan guru barunya dan di situlah tampaknya gejala ini dimulai. Tapi ketika kami pergi ke Portugal saat liburan sekolah, gejalanya menghilang," kata Claire.
Claire pun mengaku lega ketika mengetahui Elliott tidaklah mengidap penyakit yang serius, hanya saja ia cukup kaget setelah diberitahu radang usus ini tak ada obatnya.
IBS sebenarnya lebih sering menyerang orang dewasa, tepatnya satu dari tiga orang. Tapi tak banyak yang menyadari jika anak-anak pun bisa terserang radang usus. Bahkan sebuah studi menunjukkan 20 persen anak memperlihatkan gejala-gejala IBS, terutama pada usia antara 4-12 tahun.
Lalu bagaimana caranya agar para orangtua dapat membedakan kapan anaknya mengidap sakit kepala biasa atau IBS? "Sebagian besar anak akan mengalami gangguan usus dan sakit perut ketika mereka stres, tapi biasanya ini akan hilang dengan sendirinya," tutur Profesor Nick Read, seorang pakar gastroenterologi dan penasihat untuk IBS Network.
"Namun ini baru didiagnosis dengan IBS jika gejala tersebut bertahan satu hingga dua bulan. Jika iya, itu tandanya ia memang mengidap radang usus," sambungnya.
Jika gejalanya terlihat pada anak-anak, mereka harus menjalani screening untuk melihat apakah mereka mengidap Coeliac dan penyakit Crohn. "Setelah ini, IBS baru dapat terdiagnosis. Tapi anak-anak biasanya takkan mengidap IBS sampai usianya 15; mereka mungkin selalu memiliki gejalanya, hanya saja itu kerap kali dianggap sebagai diare atau gangguan perut biasa.
Menurut Profesor Read, meski tak ada obatnya setidaknya dokter harus mencoba untuk memahami kondisi si kecil dan mencari tahu penyebab stresnya. Karena stres dianggap sebagai salah satu penyebab utama IBS disamping gangguan usus itu sendiri.
"Setidaknya perlu diketahui anak-anak penderita IBS seringkali ketakutan pergi ke sekolah dan takut teman-temannya tahu apa yang terjadi padanya," ujar Michael Mahoney, seorang pakar hipnoterapi yang berpengalaman mengatasi IBS pada anak-anak selama 25 tahun.
Mahoney menambahkan jika ketakutan terbesar yang dirasakan anak penderita IBS adalah mereka takut tak bisa ke toilet tepat waktu, sehingga terkadang mereka sampai enggan meninggalkan rumah.
"Saya pun mencoba mengajarkan kepada anak-anak bahwa setiap pemikiran mereka akan menimbulkan respons pada fisik, dengan begitu mereka bisa belajar menghilangkan pikiran negatif untuk mengurangi kecemasan sekaligus gejala IBS-nya," katanya.
Untuk menanggulanginya, anak penderita IBS juga kerap disarankan untuk mengubah pola makannya karena sejumlah makanan tertentu dianggap dapat memicu serangan, mungkin karena makanan ini sulit dicerna. Mereka juga harus menghindari kafein (seperti yang ditemukan di dalam soda) yang dapat meningkatkan kadar hormon stres alias kortisol.
Seorang pakar gastroenterologi dari Guy's and St Thomas' Hospital dan The London Clinic, Dr Peter Irving pun berhasil membuktikan adanya sebuah diet khusus dari Australia yang menjanjikan bagi anak penderita IBS.
Diet yang disebut dengan FODMAP ini menekankan pembatasan makanan yang berisi gula-gula yang sulit diserap tubuh. Di antaranya madu, apel, buah pir, peach, bawang bombay, bawang merah, kubis, kacang-kacangan serta pemanis buatan seperti sorbitol.
"Prinsipnya tak semua gula dapat diserap di dalam usus kecil. Akibatnya, mereka dapat difermentasi dengan cepat oleh bakteri di dalam usus yang menyerap cairan dan menghasilkan gas. Hal inilah yang juga menyebabkan gejala seperti kembung, sakit perut serta diare," terang Dr Irving.
Hal ini telah dibuktikan lewat riset oleh peneliti dari King's College Hospital yang menemukan bahwa 75 persen pasien yang menjalankan diet ini menunjukkan pemulihan dari gejala IBS.
Metode serupa juga dilakukan Elliott yang kini berusia 12 tahun. Setelah menjajal berbagai makanan, ia menemukan bahwa makanan tertentu seperti apel tampaknya membuat gejalanya memburuk, sehingga ia berupaya menghindarinya. "Ia pun mulai baik-baik saja," pungkas sang ibu, Claire.sumber

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer